Senin, 03 Agustus 2009

Merancang Kematian....{Kehidupan Dunia itu tidak lain hanyalah Kesenangan yang Memperdayakan}

"Tiap-Tiap yang berjiwa kan merasakan mati. Dan sesungguhnya pad hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa yg dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan itu tidaklah lain hanyalh kesenangan yang memperdayakan"
(Q.S. Al-Imran:185)


Pernahkah suatu kali kita merancang dan menyiapkan hari kematian kita? Hari dimana setiap insan:

Ya Allah hidupkanlah hamba dalam keadaan mulia dan matikan hamba dalam keadaan syahid dan yang bernyawa akan menghadapinya. Saat kita berpindah ke Arrafîq Al-a`la. Apa posisi yang kita dambakan ketika malaikat Izrail datang menjemput? Apa yang telah kita persiapkan untuk dipersembahkan kepada kekasih abadi, Allah Pencipta kita? Apakah kita mempersiapkan hari kematian seperti atau melebihi persiapan kita untuk hari pernikahan?

"Apakah kita takut dengan kematian? (Sama saja) Saya akan mati dengan dibunuh atau kanker.
Mati itu pasti apapun penyebabnya Kita semua menanti, saat akhir kehidupan kita.
Tidak ada yang berubah. Apakah berakhir dengan berhentinya dengan detak jantung atau dengan helikopter Apatche. Tapi saya lebih senang mati dengan Apatche…"

DR Rantisi: Merancang kematiannya
Itulah ungkapan jujur dari asy-syahid Dr. Abdul `Aziz Arrantisi sebelum hari dimana serangan udara Yahudi dengan pesawat tempur Apatche berhasil mengarahkan rudalnya tepat mengenai mobil yang beliau tumpangi. Sekilas ungkapan beliau di atas memberitahukan pada kita, bahwa asy-syahid Arrantisi telah merancang kematiannya hingga akhirnya beliau meraih apa yang beliau cita-citakan tersebut, yaitu mati dengan Apatche.
Jauh ke belakang, para pendahulu kita as-salafus soleh sudah terbiasa melakukan perencanaan kematian. Mereka adalah manusia akhirat, manusia yang hidup untuk akhirat. Setelah gugurnya panglima Islam, Zaid bin Haritsah radhiyallahu `anhu dalam peperangan Mu`tah, bendera yang dipegangnya diambil alih oleh Ja`far radhiyallahu `anhu. Kemudian Ja'far membaca beberapa bait sya`ir :

Sayyid Quthb,,, Syuhada di tiang gantungan penguasa Mesir
Wahai manusia! Betapa indahnya surga dan betapa gembiranya orang yang menghampirinya!
Betapa bagusnya benda-benda yang ada di dalamnya dan betapa segar airnya
Telah datang waktunya bagi orang-orang Romawi untuk mendapatkan kehancuran
Dan telah diwajibkan bagiku untuk membinasakan mereka semua.


Setelah membacakan syair di atas, dengan sengaja Ja`far memotong kaki kudanya untuk melenyapkan perasaan ingin meninggalkan medang perang. Sambil memegang bendera yang berkibar di tangannya dan sebilah pedang di tangan sebelahnya, Ja`far terus bergerak maju menyerang tentara musuh. Tangan kanannya yang memegang tiang bendera kemudian dipotong oleh musuh dalam pertempuran tersebut. Ja`far segera mengambil bendera itu dengan tangan kirinya. Ketika tangan kirinya pun dipotong oleh musuh, ia tetap mengibarkan bendera itu dengan didekap di dadanya sambil menggigit tiangnya sekuat tenaga serta dibantu oleh kedua tangannya yang tersisa. Akhirnya tubuh Ja`far dibelah dua oleh musuh dari belakang sehingga ia gugur syahid. Ketika itu ia berusia 33 tahun.
Abdullah bin Umar radhiyallahu `anhu bercerita, "Ketika kami mengangkat jenazah Ja`far keluar dari medan pertempuran, kami mendapati kira-kira ada sembilan puluh luka di tubuhnya dan semuanya di bagian depan.

Panglima Khattab ,,,, syuhada yang merancang kesyahidannya di pertempuran Checnya:
...Kemudian Abdulah bin Rawahah radhiyallahu `anhu segera meraih bendera dan terus berjuang. Pada waktu itu jari-jari tangannya terluka parah dan berlumuran darah hingga bergelantungan hampir putus. Ia pun meletakkan jari-jari tangannya itu di bawah kakinya lalu menarik semuanya hingga benar-benar putus, lalu potongan-potongan jari itu ia lemparkan dan kembali bergerak menghadapi musuh. Dalam keadaan tersebut, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, bahwa tentara Islam sedang berjuang menghadapi tentara musuh yang jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan tentara Islam yang sangat sedikit, sehingga membuat Abdullah hampir putus asa dan berhenti sejenak. Tapi segera ia tersentak dari lamunannya, seraya berkata dalam hatinya, "Wahai hati! Apa yang menyebabkan kamu berpikir demikian? Apakah karena cinta terhadap istri? Kalau demikian, dia akan aku talak tiga sekarang juga. Apakah karena hamba-hamba sahaya? Kalau demikian: Hidup Mulia atau mati syuhada aku akan bebaskan mereka semua. Apakah karena kebun-kebun? Kalau begitu aku sedekahkan semuanya di jalan Allah. Abdullah kemudian membaca beberapa bait syair :

Demi Allah, wahai Abdullah, kamu harus turun
Apakah dengan senang ataupun dengan berat hati
Telah cukup lama kamu hidup dalam ketenangan
Berpikirlah, bahwa pada mulanya kamu berasal dari setetes air mani
Lihatlah, betapa hebatnya orang-orang kafir menyerang tentara Islam, apakah engkau tidak ingin surga?
Walaupun kamu tidak terbunuh dalam pertempuran ini
Ingatlah bahwa suatu hari nanti engkau akan mati juga


Senyum syuhada itu pun tersirat menyapu langit:
Kemudian ia turun dari kudanya, sementara sepupunya telah datang membawa sepotong daging kepadanya seraya berkata, "Makanlah daging ini dan beristirahatlah dulu sebentar."
Ketika Abdullah hendak mengambil daging itu, ia mendengar teriakan musuh dari sudut pertempuran. Kemudian potongan daging itu pun ia lemparkan dan dengan sebilah pedang terhunus di tangannya, Abdullah bergerak masuk ke dalam pasukan musuh dan terus berjuang dengan seluruh kekuatannya yang ada, sampai akhirnya ia pun gugur syahid.

Dalam riwayat lain dikisahkan, seorang Arab Badui bergabung dalam perang Khaibar. Usai pertempuran, Rasulullah shallallahu `alahi wa sallam membagikan hasil rampasan perang. Ketika bagiannya diberikan oleh Rasulullah, ia bertanya, "Wahai Rasulullah, apa ini?", "Ini adalah hasil peperangan yang aku sisihkan untukmu", jawab Rasul. "Saya bergabung dengan kafilah jihad engkau bukan karena ini, tapi saya ingin syahid dengan cara tertancap tombak di salah satu sisi leher saya hingga tembus keluar sisi yang lain."

"Jika kamu jujur kepada Allah dengan niat ini, maka niscaya Allah akan menjadikannya kenyataan", balas Rasulullah saw. Kemudian para sahabat kembali berperang.
Seperti biasa usai peperangan, para syuhada dikumpulkan. Dan, seorang Badui tadi ditemukan mati syahid persis seperti yang ia inginkan. Allahu akbar...!

Seperti inilah kehidupan para sahabat radhiyallahu `anhum. Setiap kisah mengenai mereka telah membuktikan betapa tingginya semangat perjuangan mereka, sekaligus membuktikan bahwa dunia beserta segala isinya tidak mempunyai nilai apa-apa dalam pandangan mereka. Tetapi sebaliknya, yang sangat mereka cintai dan dambakan adalah kejayaan di akhirat kelak.
{Source: M. Arif As-Salman http://www.eramuslim.com)

Pernahkah kita berfikir tentang hal ini? Tentang kedudukan kita kelak di akhirat. Pernahkah bayang-bayang itu muncul? Sudah beranikah kita dengan jujur merencanakan kematian seperti mereka? Apa yang telah kita siapkan untuk bertemu dengan Sang Kekasih yang abadi? Adakah perjumpaan dengan Allah menjadi dambaan kita? Apa yang telah kita rancang dan siapkan untuk menyambut hari kematian kita? Apakah kita menginginkan kematian dalam keadaan tengah bersujud pada Allah? Di saat tengah shalat, membaca al-Qur`an, berdakwah, menuntut ilmu, berpuasa, dan lain-lainnya? Ataukah dalam keadaan tunduk dan bersujud pada hawa nafsu, setan, dunia, harta, dan disaat sedang berbuat dosa dan maksiat pada Allah? Wallahul musta`an wa a`lam.
Pada_Mu kami kembali.....(Sawfa Arji'..)

Titian Muhasabah: Kembalinya Air Mata TAUBAT..

"Kata-kata cinta terucap indah. Mengalir berdzikir di kidung doaku. Sakit yg kurasa biar jadi penawar dosku..Butir-butir cinta air mataku, teringt semua yang Kau beri untukku. Ampuni khilaf dan salah, selama ini ya Ilahi...Muhasabah cintaku"
Saudaraku...
Sejak diciptakan oleh Allah, manusia selalu berada di atas sebuah titian perjalanan.
Dunia bukanlah negeri untuk ditinggali selamanya. Akan tetapi ia adalah tempat persinggahan dan sekedar untuk lewat saja …

Perjalanan ini tidak akan pernah berakhir kecuali setelah kita menghadap Allah. Barangsiapa yang berlaku baik di dalam perjalanannya niscaya akan diberi balasan dengan kenikmatan abadi di surga… Dan barangsiapa yang berlaku jelek di dalam perjalanannya niscaya akan dibalas dengan siksa yang pedih di dalam Jahannam.
Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Dan seandainya bukan karena keutamaan dari Allah kepada kalian dan kasih sayang-Nya (niscaya kalian akan binasa). Dan sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha bijaksana” (QS. An Nuur [24] : 10). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Tuhanmu sangat luas ampunannya” (QS. An Najm [53] : 32). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Rahmat-Ku amat luas meliputi segala sesuatu” (QS. Al A’raaf [7] : 156)

Saudaraku....
Pintu taubat selalu terbuka lebar, ia menanti kedatangan hamba-hamba yg ingin meraihnya
Jalan kaum yang bertaubat telah dihamparkan, …
Ia merindukan pijakan kaki ini..
Maka ketuklah pintunya dan tempuhlah jalannya. Mintalah taufik dan pertolongan kepada Azza wajalla

Bersungguh-sungguhlah dalam menaklukkan hawa nafsu, paksalah ia untuk tunduk dan taat kepada Tuhannya. Dan apabila telah benar-benar bertaubat kepada Allah kemudian sesudah itu terjatuh lagi di dalam maksiat -sehingga memupus taubat yang terdahulu- janganlah malu untuk memperbaharui taubat untuk kesekian kalinya. Selama maksiat itu masih berulang maka teruslah bertaubat.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Karena sesungguhnya Dia Maha mengampuni kesalahan hamba-hamba yang benar-benar bertaubat kepada-Nya” (QS. Al Israa’ [17] : 25). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Dzat Yang Maha pengampun lagi Maha penyayang. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan” (QS. Az Zumar [39] : 53-54)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian berbuat dosa sehingga tumpukan dosa itu setinggi langit kemudian kalian benar-benar bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubat kalian” (Shahih Ibnu Majah)

Tuhan....dosaku menggunung tinggi
tapi rahmat_Mu melangit luas
harga selautan syukurku, hanyalah setitis nikmat_Mu di bumi
Tuhan...walau TAUBAT sering ku mungkir
namun PENGAMPUNAN_Mu tak pernah bertepi (Nasyid song)

Biarkan semua mengalir bak rinai hujan, mengering tak subur kembali bagai diterpa kemarau yang tak berkesudahan, karena keyakinan telah menempa diri akan tergantikan dengan taman kebahagiaan yang mengalirkan madu-madu CINTA mempermanis IMAN. Angin berbicara lewat deruannya yang memberikan kesejukan di setiap sudut pertiga malam. Guntur bergemuruh teratur disambut kilatan petir yang memancar indah. Dedaunan merunduk 'tersenyum' dibalik tetesan embun yang menitis perlahan ke bumi. Sahutan binatang malam bersahutan menyambut doa JIWA yang telah ikhlas berserah. Malam pun merangkul penuh kehangatan, membiarkan perjuangan meraih ma'rifat dalam takarrub yang berhias khauf dan roja.

Takkan berakhir di sini. Karena setiap takbir, rukuk, dan sujud akan menjadi saksi pengabdian yang tak pernah bertepi, hingga waktu itu tiba.."Ya ayyuhannafsul muthma'innah. Irji'i ila rhadhiyatammardhiyyah. Fadkhuli fi 'ibadi, wadkhuli jannati...." (QS. Al-Fajr: 26-30)

"..Innallaha yuhibbuttawwabina, wa yuhibbulmutatohhirin.." Sesunguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertubat dan orang-orang yang mensucikan diri..

Oleh sebab itu, orang yang berbahagia adalah yang selalu bersiap-siap untuk menempuh perjalanan ini dan membekali dirinya untuk itu. Dia pun mempersiapkan bekal ketakwaan dan amal shalihnya. Sedangkan orang yang celaka ialah orang-orang yang menyia-nyiakan umurnya di dalam kelalaian dan kemaksiatan. Sehingga kedatangannya tatkala menghadap Tuhannya ia divonis sebagaimana para pendurhaka, pelaku dosa dan kesalahan.

Sementara itu, di dalam perjalanannya menuju Allah seorang hamba pastilah akan mengalami sesuatu yang tidak terpuji, baik berupa ucapan maupun perbuatan; sebab manusia bukanlah makhluk yang ma’shum (terjaga dari salah dan dosa). Dia tidak pernah lepas dari sifat lupa dan lalai. Dan karena kemaksiatan-kemaksiatan merupakan sebab timbulnya murka Allah terhadap hamba dan pemicu ditimpakannya hukuman atasnya maka Allah ‘azza wa jalla tidaklah menelantarkan hamba-hamba-Nya menjadi tawanan maksiat. Allah tidak membiarkan mereka terjebak dalam kebingungan dan kekalutan. Akan tetapi Allah melimpahkan nikmat yang sangat agung kepada mereka. Allah karuniakan kepada mereka sebuah anugerah yang sangat besar. Yaitu dengan dibukakan-Nya pintu taubat dan inabah bagi mereka. Kalau seandainya Allah tidak memberikan taufik kepada hamba-hamba-Nya untuk bertaubat dan tidak memberikan nikmat diterimanya taubat itu pastilah hamba akan terjebak dalam sebuah kondisi sempit yang amat menyusahkan. Sehingga merekapun diliputi rasa putus asa dari mendapatkan ampunan. Dan harapan mereka untuk bisa mencari kedekatan dengan Tuhannya pun menipis dan terputuslah keinginan mereka untuk bisa meraih ampunan, kelapangan dan kelonggaran.

Allah Maha pengampun, Maha penerima taubat dan Maha penyayang. Allah menyifati diri-Nya di dalam Al Qur’an bahwa Dia Maha pengampun lagi Maha penyayang hampir mendekati 100 kali. Allah berjanji mengaruniakan nikmat taubat kepada hamba-hamba-Nya di dalam sekian banyak ayat yang mulia. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian, sedangkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya ingin agar kalian menyimpang dengan sejauh-jauhnya” (QS. An Nisaa’ [4] : 27)
Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Dan seandainya bukan karena keutamaan dari Allah kepada kalian dan kasih sayang-Nya (niscaya kalian akan binasa). Dan sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha bijaksana” (QS. An Nuur [24] : 10). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Tuhanmu sangat luas ampunannya” (QS. An Najm [53] : 32). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Rahmat-Ku amat luas meliputi segala sesuatu” (QS. Al A’raaf [7] : 156)

Saudaraku....
Pintu taubat selalu terbuka lebar, ia menanti kedatangan hamba-hamba yg ingin meraihnya
Jalan kaum yang bertaubat telah dihamparkan, …
Ia merindukan pijakan kaki ini..
Maka ketuklah pintunya dan tempuhlah jalannya. Mintalah taufik dan pertolongan kepada Azza wajalla

Bersungguh-sungguhlah dalam menaklukkan hawa nafsu, paksalah ia untuk tunduk dan taat kepada Tuhannya. Dan apabila telah benar-benar bertaubat kepada Allah kemudian sesudah itu terjatuh lagi di dalam maksiat -sehingga memupus taubat yang terdahulu- janganlah malu untuk memperbaharui taubat untuk kesekian kalinya. Selama maksiat itu masih berulang maka teruslah bertaubat.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Karena sesungguhnya Dia Maha mengampuni kesalahan hamba-hamba yang benar-benar bertaubat kepada-Nya” (QS. Al Israa’ [17] : 25). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Dzat Yang Maha pengampun lagi Maha penyayang. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan” (QS. Az Zumar [39] : 53-54)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian berbuat dosa sehingga tumpukan dosa itu setinggi langit kemudian kalian benar-benar bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubat kalian” (Shahih Ibnu Majah)

Tuhan....dosaku menggunung tinggi
tapi rahmat_Mu melangit luas
harga selautan syukurku, hanyalah setitis nikmat_Mu di bumi
Tuhan...walau TAUBAT sering ku mungkir
namun PENGAMPUNAN_Mu tak pernah bertepi (Nasyid song)

Biarkan semua mengalir bak rinai hujan, mengering tak subur kembali bagai diterpa kemarau yang tak berkesudahan, karena keyakinan telah menempa diri akan tergantikan dengan taman kebahagiaan yang mengalirkan madu-madu CINTA mempermanis IMAN. Angin berbicara lewat deruannya yang memberikan kesejukan di setiap sudut pertiga malam. Guntur bergemuruh teratur disambut kilatan petir yang memancar indah. Dedaunan merunduk 'tersenyum' dibalik tetesan embun yang menitis perlahan ke bumi. Sahutan binatang malam bersahutan menyambut doa JIWA yang telah ikhlas berserah. Malam pun merangkul penuh kehangatan, membiarkan perjuangan meraih ma'rifat dalam takarrub yang berhias khauf dan roja. 

Takkan berakhir di sini. Karena setiap takbir, rukuk, dan sujud akan menjadi saksi pengabdian yang tak pernah bertepi, hingga waktu itu tiba.."Ya ayyuhannafsul muthma'innah. Irji'i ila rhadhiyatammardhiyyah. Fadkhuli fi 'ibadi, wadkhuli jannati...." (QS. Al-Fajr: 26-30)

"..Innallaha yuhibbuttawwabina, wa yuhibbulmutatohhirin.." Sesunguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertubat dan orang-orang yang mensucikan diri..

Jumat, 31 Juli 2009

KAU ADA DI HATIKU..{You’re the one who held me up, Never let me fall}

"Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila Telah sunyi (gelap). Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. Dan Sesungguhnya hari Kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu dia melindungimu? Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu dia memberikan petunjuk. Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu dia memberikan kecukupan" (QS. Adh-Dhuha: 1-8)

Semuanya datang beruntun bak rinai hujan dari langit. Kelemahan kembali menjadi "paranoid" yang membelenggu jiwa. Hingga nyaris tak kuasa melangkah, menggapai, bahkan untuk sekedar menatap ke depan, yang terdampar sebuah tujuan yang akan menemukan satu titik harapan. KAKU..! Tak dapat dielakkan, tangis kekanakan itu kembali menjadi teman setia di ujung malam. terlarangkah? Saat ini, hal itu menjadi rasa malu yang menghimpit saat mengingat kata 'kedewasaan'.
Pergi jauh, meninggalkan semua kenangan indah yang terangkum dalam PERSAUDARAAN. Meskipun pada akhirnya berhenti pada pilihan yang tak pernah diharapkan, namun membawa Ibroh yang akan terus menuntun perjalanan hidup ini. Tak hanya itu, langkah pergi bersama kegalauan, pertanyaan-pertanyaan yang belum mendapat jawaban, kekecewaan, dan kemarahan. Ditambah dengan kenyataan bahwa diri kembali sendiri. Apa yang terpikirkan saat diri merasa jauh dari keramaian? sepi, sunyi, tanpa teman? Membosankan, bahkan mengerikan! Lengkap, diri terasing!
Prolog jiwa yang membuat langkah ini terkatung dalam harap yang sama, seperti dulu. harus berapa lama menanti kepastian yang tak kunjung 'berani' ke depan, walau hanya untuk mewakili setengah HATI??
****

Terkadang, lingkup kebahagiaan merangkum semua kegalauan, kesedihan dan meruntuhkan dinding permasalahan yang menghalangi. Seakan diri bisa bertahan walau hanya dengan se-sirat senyum. Kekuatan menjadi pemacu diri untuk tetap tangguh dengan semua pancaroba yang memang mesti ada. Tak urung ghirah itu berada pada puncak azam yang sempurna, tak goyah. Perjuangan yang berkerikil tajam tak terhiraukan. semua utuh, menunaikan niat.
Sedikit terperosok, kaki tergelincir dalam jurang yang menganga siap menerkam. Semua berputar menjadi serpihan-serpihan ketakutan, kesedihan, kelemahan, kemarahan bahkan putus asa. Ghirah memudarkan azam yang cemerlang. Niat suci menjadi noda yang pekat! Lisan berucap lirih: Aku tak SANGGUP! Allah, inikah yang namanya PEJUANG? Sungguh, diri tertunduk malu menatap_Mu. Sampai kapan terpaku dengan rasa terasing??
Izinkan aku menelususri nyanyian qalbu yang menyatu dg tasbinya alam. Menguak rahasia agung_Mu dalam setiap bait dan lantunan KATA-KATA CINTA. Berharap menemukan CINTA yang UTUH dan ABADI. Izinkan Aku...


Inilah aku yang tak mensyukuri nikmat_Mu
inilah aku yang tak sadar menutup HATI akan kebenaran janji_MU
inilah aku yang sering 'menghujat' ketentuan_Mu
inilah aku yang sering mengabaikan kasih sayang_Mu
inilah aku yang tak sadar menepis 'rangkulan_Mu"
inilah aku yang menghilangkan kesabaran dalam perjuangan itu
inilah aku yang selalu luluh dengan kelemahan
inilah aku.....
inilah aku.....
inilah aku yang selalu KALAH....KALAH...dan KALAH...


Hanya sebatas itukah keinginan, keberanianketeguhan, kekuatan, kepercayaan, keikhlasan, kesabaran!Jika ingin menghitung jauh perjalanan, maka perjalanan itu baru akan membentuk TAPAK pertama. Sungguh, diri belum membuat suatu apapun. Tak layak rasanya jika ingin meminta 'upah'tanpa 'bekerja'??? Jauh dari semua....

Dan akhirnya, semua terjawab. HATI mengungkapkan segala keresahannya bahwa diri, belum dan bukan apa-apa, hanya pengemban amanah hidup yang harus mencari, mengkaji, membenahi diri dan mencobanya dalam setiap perjalanan hidup. Menyampaikan kata demi kata kebenaran memendarkan cahaya Agung keseluruh jagat raya ini, hingga Cahaya itu berada pada puncak kemenanganya.Semua bukanlah perkara mudah. Karena TUGAS itu akan terus bertambah seiring usia..dan diri bukanlah pejuang yang sempurna. Tapi akan selalu merintis...
"..dan Dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan" (Q.S. Adh_Dhuha: 6-8)
Diri tidaklah sama dengan batu karang yang tetap tangguh meski ombak dan badai menerpanya. Diri hanyalah pemilik jiwa yang begitu rapuh dan pemilik hati yang mudah berbolak-balik. Tak selamanya dapat bertahan pada keIMANAN yang terjaga. akan ada FUTUR yang menggoyahkannya. Tapi, jiwa itu akan selalu memegang tali kendali_Nya:
"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu yang memberatkan punggungmu?..." (Q.S. Al-Insyirah: 1-4)dan ..."karena sesungguhnya sesudah ada kesulitan itu ada kemudahan" (Q.S. Al-Insyirah: 5-6)

 
Wahai Cinta, cukup bagiku Engkau
tak ingin lagi terpuruk dengan keguguan
Diri begitu menyadari, setiap jejak langkah
adalah anugerah...
tak ingin mengabaikannya
Sunggu! Rangkulan-MU, tak akan pernah melepaskanku
Berserah pada_Mu


Wahai Cinta, cukup bagiku Engkau
ada kerinduan yang tak terbendung dalam diri ini
mampukah aku meraihnya?
menempatkannya pada sudut hatiku yang terindah?
karena, tak ingin ia terambil oleh yang lain

Wahi Cinta, cukup bagiku Engkau
membimbing menuju jalan itu
jalan yang ditapaki para Mujahid/ah_Mu
yang melewati setiap detik waktu bersama_Mu
yang menjadi penoreh sejarah dalam kebangkitan Din_Mu yang mulia

Wahai Cinta, cukup bagiku Engkau

yang menjaga dan menilai lHATI ini
jangan berpaling dariku, walau SEKEJAP!
KAU ADA DI HATIKU.....

You gave me wings and made me fly
You touched my hand I could touch the sky
I lost my faith, you gave it back to me
You said no star was out of reach
You stood by me and I stood tall
I had your love I had it all
I’m grateful for each day you gave me
Maybe I don’t know that much
But I know this much is true
I was blessed because I was loved by you (By: Celin Dion)

>Menapak pertiga malam, {July, 31: Reach My LOVE.....}


Sabtu, 25 Juli 2009

Marhaban Syahru Shiyam: Cinta itu perjuangan, Perjuangan itu Cinta {Pada_Mu: Sang Maha Cinta}

Im_Syaza, 28 Des: Berpuasa dengan CINTA.......

Allah SWT berfirman,“Apabila seorang hamba mendekatkan diri kepadaku sejengkal, Aku mendekatinya sehasta. Apabila ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat sedepa. Apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang dengan berlari.”(HR Bukhari).

Semua dimulai kembali.Menjajaki peraduan 'tausyiah panjang' yg harus di kaji,direalisasikan,diperjuangakan,meskipun harus bertahan dg semua 'pertanyaan' yg memng mesti ADA.Harus bertahan...kebenaran itu menempatkan dirinya di semua putaran bumi ini.Tangan2 pejuang akan meraih dan mengangkatnya kepermukaan..Amin. BERSABARLAH...semua DEMI CINTA....:)


CINTA itu ANUGERAH.........: saat setiap sisi kepingnya terjaga oleh virus-virus kebohongan, penghianatan dan jalan yang tak ia kehendaki. karena anugerah baginya adalah saat semua jemari merangkulnya ke dalam dekap nyata akan jalan lurus yang telah ditata apik sang Pemilik. Menebarkannya pada HATI-HATI yang tulus meraihnya....tak pernah meminta, tetapi selalu MEMBERI.
{Im'_des, 28}


Semua DEMI CINTA

BILA KEKUATAN CINTA........
Dua insan begitu memikat hati
Menjadikannya tempat berlabuh paling indah
Indah tuk dikenang, indah tuk dirasa
Maka seharusnya itu tak seberapa
Tak sekuat, tak secantik, tak seindah.....
Cinta yang langit tebarkan
Tuk disemai para penduduk bumi
Hingga jadikannya cahaya paling indah
Tuk digapai, tuk dirasa, tuk dijadikan asa!

BILA KEKUATAN CINTA....
Dua insan begitu mempesona
Menjadikannya rona merah di tiap pipi pemimpi
Membuainya dalam mimpi
Hingga esok terjaga dengan bunga-bunga indah dalam mata
Maka seharusnya itu tak seberapa
Tak semenarik, tak semenggeliat....
Cinta yang ditawarkan
Para pendahulu cinta
Hingga jadikannya pengantar tidur dan pengawal hari
Tuk dihayati, tuk dijunjung, tuk disanjung..

BILA KEKUATAN CINTA.....
Dua insan begitu merindu
Menjadikannya dunia hanya milik berdua
Tiap tatapan adalah bukan ragu
Maka cukuplah ini sebagai surga dunia
Maka seharusnya itu tak seberapa
Tak se_menggetarkan, tak se_mengharukan
Cinta yang menyediakan bau tanah tuk tempat kembali
Pijakan amal terluas juga tempat menanti
Hingga jadikannya penguat hati, pengantar perjuangan
Tuk tak dijadikan sia-sia, tuk tak dijadikan beban

Rabb.......,

Bila hati ini terlampau mudah tuk terpaut cinta

Maka jadikan ia bangga

Karena azamnya tuk jadikan Engkau satu-satunya cinta

Rabb.......,
Bila hati ini terlampau mudah tuk disinggahi cinta
Maka jadikan ia bercahaya
Karena tekadnya tuk jadikan ia sebagai benda termahal
Yang dipersembahkan pemiliknya hingga ia berkata
"CINTA itu PERJUANGAN, PERJUANGAN itu CINTA"

{Source: Pluto}
(
Sudah sampai mana ya, hati ini memperjuangkan cinta?)

"Ramadhan adalah bulan pembuktian cinta.
Ketundukan adalah cinta, kebajikan adalah cinta,
derma adalah cinta, dan menata jiwa lebih dewasa adalah cinta.
Ramadhan, saatnya memberi makna istimewa pada Cinta kita"
(Anis Matta)

Perlahan langkah ini menghitung waktu menuju AGUNG nya. Harapan utuh untuk menjadi bagian dari keMULIAannya, membaur bersama kekhusyukan munajat yang tak terbilang indahnya.
sedikit ada keraguan, sampaikah pada detik-detik itu? sedang diri hanya menjalankan AMANAH HIDUP untuk perjuangan yang tak sedikit. Semoga ghiroh akan tetap utuh hingga padanya bertemu kembali.
Marhaban syharun'azim.......akan menggapaimu dengan CINTA {July, 25_tapak-tapak penuh CINTA}

Sabtu, 04 Juli 2009

Merusak Pendidikan Agama

Penulis: Adian Husaini
Source: Eko Heru Prayitno


Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural”. Itulah judul sebuah buku yang ditulis seorang dosen di salah satu Perguruan Tinggi Islam di Jawa Tengah. Dalam kata pengantarnya untuk buku ini, Direktur Pasca Sarjana UIN Jakarta, Prof. Dr. Azyumardi Azra, menyatakan, bahwa buku ini memiliki arti penting bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan agama. Azra mendefinisikan ‘Pendidikan Multukultural’ sebagai “pendidikan untuk/tentang keragaman kebudayaan dalam meresponi perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan.”
Buku ini penting untuk kita cermati, karena menyuguhkan satu wacana tentang Pendidikan Agama di Indonesia. Ajaibnya, buku ini bukan memberikan suatu pemahaman tentang Pendidikan Agama yang benar, tetapi justru menyuguhkan suatu pemahaman yang merusak aqidah Islam itu sendiri. Maka, seharusnya, seorang profesor kenamaan tidak sampai terjebak untuk memuji-muji buku seperti ini. Apalagi, si profesor juga dikenal sebagai pimpinan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Mungkin Sang Profesor tidak membaca isinya dengan teliti, atau mungkin memang dia sendiri setuju dengan isi buku tersebut.
Sebenarnya, istilah yang digunakan, yakni ”Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural”, itu sendiri sudah bermasalah. Istilah itu mengesankan, seolah-olah selama ini, umat Islam tidak mengembangkan pendidikan agama yang menghormati keragaman budaya masyarakat. Bahkan, seperti pernah kita bahas dalam sejumlah CAP, istilah dan makna ”multikulturalisme” itu sendiri – seperti dijelaskan oleh para pendukungnya -- sudah sangat bermasalah.
Tetapi, kita sangat memahami, karena paham ini sedang menjadi proyek global – yang tentu saja ada kucuran dana yang sangat besar – maka wacana multikulturalisme terus dijejalkan kepada kaum Muslim Indonesia. Badan Litbang Departemen Agama telah meluncurkan program pembinaan dai-dai multikultural dan menyebarkan buku-buku tentang multikulturalisme. Para santri dan kyai di berbagai pesantren, khususnya di Jawa Barat, juga telah dijejali paham ini oleh agen liberal, seperti International Center for Islam and Pluralism (ICIP). Berbagai seminar tentang multikulturalisme pun digelar, seolah-olah, inilah agenda penting yang harus ditelan umat Islam Indonesia saat ini. Seolah-olah, umat Islam selama ini tidak memahami keragaman budaya dan agama. Seolah-olah umat Islam selama ini tidak toleran dengan agama lain, dan sebagainya.
Kita pernah membahas apa makna ”Multikulturalisme” dalam pandangan Litbang Departemen Agama, yang merupakan hasil penelitian Litbang Depag tentang “Pemahaman Nilai-nilai Multikultural Para Da’i”. Dijelaskan, bahwa selain dapat menjadi faktor integrasi, agama juga dapat menjadi faktor dis-integrasi. Konflik antar-umat beragama dapat terjadi karena -- salah satunya -- disebabkan oleh adanya pemahaman keberagamaan masyarakat yang masih eksklusif. Pemahaman ini dapat membentuk pribadi yang antipati terhadap pemeluk agama lain. Pribadi yang selalu merasa hanya agama dan alirannya saja yang paling benar sedangkan agama dan aliran lainnya adalah salah dan dianggap sesat.
Jadi, dalam wacana multikulturalisme, klaim kebenaran (truth claim) terhadap agamanya sendiri dipandang sebagai sesuatu yang menjadi sebab terjadinya konflik antar-umat beragama. Logika selanjutnya adalah, agar umat beragama menghilangkan klaim kebenaran terhadap agamanya sendiri. Umat beragama diajak untuk mengakui kebenaran semua agama. Minimal, jangan menyalahkan agama dan kepercayaan di luar agamanya.
Tentu saja kesimpulan semacam ini sangat keliru. Sebab, setiap orang yang beragama – jika masih berpegang pada keyakinan agamanya – pasti meyakini kebenaran agamanya sendiri. Jika dia meyakini kebenaran semua agama, maka dia sejatinya sudah tidak beragama. Kita ingat jargon populer kaum Pluralis Agama, yakni ”All paths lead to the same summit” (semua jalan akan menuju puncak yang sama). Maksudnya, agama apa pun sebenarnya menuju pada Tuhan yang sama. Tokoh pluralis lain menggambarkan agama-agama laksana jari-jari sebuah roda yang semua menuju pada poros yang sama. Poros itulah, menurut dia, adalah Tuhan.
Semangat humanisme sekular tanpa diskriminasi agama inilah yang juga ditekankan dalam buku ”Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural”. Misinya adalah membangun persaudaraan universal tanpa membedakan lagi faktor agama, sebagaimana misi yang digelorakan oleh Free Masonry, Theosofie, dan sebagainya. Misalnya ditulis dalam buku ini:
”Sebagai risalah profetik, Islam pada intinya adalah seruan pada semua umat manusia, termasuk mereka para pengikut agama-agama, menuju satu cita-cita bersama kesatuan kemanusiaan (unity of mankind) tanpa membedakan ras, warna kulit, etnik, kebudayaan, dan agama... Pesan kesatuan ini secara tegas disinyalir al-Qur’an: ”Katakanlah: Wahai semua penganut agama (dan kebudayaan)! Bergegaslah menuju dialog dan perjumpaan multikultural (kalimatun sawa’) antara kami dan kami... Dengan demikian, kalimatun sawa’ bukan hanya mengakui pluralitas kehidupan. Ia adalah sebentuk manifesto dan gerakan yang mendorong kemajemukan (plurality) dan keragaman (diversity) sebagai prinsip inti kehidupan dan mengukuhkan pandangan bahwa semua kelompok multikultural diperlakukan setara (equality) dan sama martabatnya (dignity).” (hal. 45-46).

Bagi yang memahami tafsir al-Quran, pemaknaan terhadap QS 3:64 tentang kalimatun sawa’ semacam itu tentulah dan ngawur. Sebab, ayat itu sendiri sangat jelas maknanya, yakni perintah kepada Nabi Muhammad saw agar mengajak kaum Ahlul Kitab untuk kembali kepada ajaran Tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Disebutkan dalam ayat tersebut (yang artinya):
”Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuat upun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain daripada Allah.”

Jadi, QS 3:64 tersebut jelas-jelas seruan kepada tauhid, bukan kepada paham Multikulturalisme. Meskipun maknanya sudah begitu jelas, tapi para pendukung paham Multikulturalisme ini dengan sangat berani dan gegabah membuat makna sendiri. Karena menjadikan paham Multikulturalisme sebagai dasar keimanannya, maka Tauhid pun dimaknai secara keliru dan diselewengkan maknanya. Padahal, Tauhid jelas berlawanan dengan syirik. Musuh utama Tauhid adalah syirik. Karena itu, Allah sangat murka dengan tindakan syirik, dan disebut sebagai ”kezaliman yang besar” (zhulmun ’azhimun). Karena itu, di dalam al-Quran disebutkan, bahwa Allah SWT sangat murka, karena dituduh mempunyai anak (QS 19:88-91).
Tetapi, dalam paham Multikulturalisme sebagaimana dijelaskan dalam buku ini, justru keyakinan akan kebenaran agamanya sendiri dilarang:
”Klaim berlebihan tentang kebenaran absolut kelompok keagamaan sendiri, dan
klaim kesesatan kelompok-kelompok agama lain, bisa membangkitkan sentimen permusuhan antarumat beragama dan antarkelompok. Penganjur-penganjur agama yang mempunyai corak pemahaman teologi dogmatis semacam itu dapat dengan mudah membawa dan memicu konflik dan kekerasan pada level pengikut. Dan anehnya semua mengatasnamakan Tuhan.” (hal. 48)

Tidak sulit untuk menyimpulkan, bahwa sadar atau tidak, misi buku Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural ini memang jelas-jelas merusak aqidah Islam. Agar memiliki daya rusak yang tinggi, maka digunakanlah salah satu aspek strategis, yakni ”Pendidikan Agama”. Daya rusak itu tentu saja semakin tinggi dengan dukungan profesor kenamaan yang memiliki kekuasaan tinggi di Perguruan Tinggi dan organisasi cendekiawan Muslim.
Buku Pendidikan Agama jenis ini memang jelas-jelas menyebarkan ’paham syirik’ Pluralisme Agama. Sebab, buku ini membenarkan semua paham syirik yang dengan tegas telah dikecam dalam al-Quran. Ditulis, misalnya: ”Jadi, semua agama adalah sebuah totalitas sosio-kultural yang merupakan jalan-jalan yang berbeda dalam mengalami dan hidup dalam relasi dengan Yang Ilahi. Yang menyebabkan perbedaan itu adalah bukan sesuatu yang mutlak sifatnya, namun hanya faktor-faktor partikular yang berhubungan dengan sejarah dan kebudayaan.” (hal. 50).
Lebih jauh dijabarkan bahwa: ”Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural mengandaikan suatu pengajaran efektif (effective teaching) dan belajar aktif (active learning) dengan memperhatikan keragaman agama-agama siswa. Dalam hal ini, proses mengajar lebih menekankan pada bagaimana mengajarkan tentang agama (teaching about religion), bukan mengajarkan agama (teaching of religion), karena yang pertama melibatkan pendekatan kesejarahan (historical approach) dan pendekatan perbandingan (comparative approach), sedangkan yang kedua melibatkan indoktrinasi dogmatik pada siswa sehingga secara praktis ia tidak memberikan sarana yang memadai untuk menentukan palajaran/kuliah mana yang dapat diterima dan mana yang perlu ditolak.” (hal. 102).
Untuk menjalankan misi Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural tersebut, maka juga diperlukan guru-guru yang memiliki pemahaman yang sama. ”Guru penganut suatu agama yang meyakini hanya ada satu kebenaran dan satu keselamatan, tertutup kemungkinan untuk menerima validitas kepercayaan-kepercayaan alternatif dan gagal mengajarkan toleransi dan saling menghargai antar sesama penganut agama.” (hal. 103).
Jadi, jelaslah, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural memang berusaha menggerus keyakinan ekslusif tiap agama, khususnya aqidah umat Islam. Untuk itu, penulis buku yang sudah sangat populer keliberalannya ini memang tidak takut-takut untuk merusak tafsir al-Quran, sebagaimana contoh terdahulu. Sejumlah ayat al-Quran lainnya juga dia tafsirkan dengan semena-mena.
Misalnya, dengan seenak perutnya sendiri, ia mengubah makna ”taqwa” dalam QS 49:13. Kaum Muslim memahami bahwa makna ’taqwa’ adalah taat kepada perintah Allah dan menjauhi larang-larangan-Nya. Tapi, oleh penganut paham multikulturalisme, istilah ’taqwa’ diartikan sebagai ”yang paling dapat memahami dan menghargai perbedaan pendapat.” Buku Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural ini menerjemahkan ayat tersebut sebagai berikut:
”Hai manusia, sesungguhnya Kami jadikan kalian dari jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kalian berkelompok-kelompok dan berbangsa-bangsa, agar kalian saling memahami dan saling menghargai. Sesungguhnya orang yang paling bermartabat di sisi Allah adalah mereka yang paling dapat memahami dan menghargai perbedaan di antara kamu.” (hal. 49).

Sebagai kaum Muslim, kita diperintahkan untuk sangat berhati-hati dalam menafsirkan al-Quran. Dalam acara ”Kolokium Nasional Pemikiran Islam” di Universitas Muhammadiyah Malang, 11-13 Februari 2008, tokoh Muhammadiyah Ustad Muammal Hamidy mengingatkan, bahwa para sahabat Rasulullah saw dan para ulama ahli tafsir senantiasa sangat berhati-hati menafsirkan al-Quran.
Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dengan tawadhu’nya pernah menyatakan: “Bumi manakah yang akan menyanggaku dan langit manakah yang akan menaungiku jika aku mengatakan sesuatu yang tidak aku ketahui tentang Kitabullah?” Ibn Katsir juga mengutip hadits Rasulullah saw: “Barangsiapa yang mengucapkan (sesuatu) tentang al-Quran berdasarkan ra’yunya atau berdasarkan apa yang tidak dipahaminya, maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka.” (HR Tirmidzi, Abu Daud, Nasa’i). Abu Ubaid pernah juga memperingatkan: “Hati-hatilah dalam penafsiran, sebab ia merupakan pemaparan tentang Allah.”
Mencermati isi buku ini tidaklah sulit bagi kita untuk menilai, bahwa buku Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural ini memang merusak aqidah Islam dan Tafsir al-Quran. Namun, Professor sekaliber Azyumardi Azra justru memberikan pujiannya. Penulis buku ini, menurut sang Professor UIN Jakarta ini,”telah membuka pintu masa depan kajian pendidikan agama bercorak multikulturalisme di Indonesia”.
Jadi, pintu untuk merusak Pendidikan Agama di Indonesia sudah resmi dibuka! 
{Source: Eko Heru Prayitno}
Bukankah ini dilema lama yang disadari oleh kalangan akademisi, terutama, tetapi dilema yang juga tetap eksis sampai sekarang...Apa pendapat anda dan tindakan apa yang mesti kita lakukan?

Jumat, 03 Juli 2009

Waiting for Love:Pada-Mu Kubertanya Lewat setiap SUJUDku (Sawfa Arji')

"Ya Allah sesunguhnya aku memohon kepada-Mu kelezatan (kenikmatan) dalam memandang wajah-Mu yang mulia dan aku mohon kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu.."( HR. Nasa'i dan Ahmad)
"Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbilah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-Nya". (QS. Al-Furqan: 58)

Keagungan itu bisa dirasakan dalam setiap helaan nafas
sela jemari, menelusuri biduk hati yang bercengkrama
menyatukan diri untuk sebuah asa....

Benarkah setiap lingkup hidup ini adalah peluang?
hingga disetiap sudutnya ada kesempatan yang terukir dengan nyanyian mimpi,
.......terlalu lama menanti jawaban 

Benarkah setiap diri kita sedang mencari integritas diri,
mencari orang-orang yang bisa memahami keberadaan kita
mencari kehidupan yang mampu menopang kita
meaningless....untuk sebuah cerita
but....this is true!

Perjalanan yang terasa sangat panjang terkadang hanya
menjadi sebuah tapak sejarah yang tak berarti
pencarian yang tak tau kemana arah akan dituju

Keagungan adalah bersitan harapan 
yang memadukan rasa syukur dan dzikir bagi hamba-hamba
yang percaya bahwa hidup adalah kepastian
menuju keabadian....
tiada yang tak mungkin untuk dicapai
jika keyakinan tertanam,,,bahwa Allah akan menyertai setiap
prasangka hambaNya.

Perjalanan Malam: Sendiri menyepi

Saat-saat bercengkrama bersama tautan hati yang tiada seorang pun mampu meng-hijabnya. Menceritakan segala keinginan, kebaikan, keburukan, keresahan, kesedihan..Seandainya saja semua kalimat-kalimat itu dapat di ekspresikan oleh lisan, maka dia tak akan pernah berhenti tercurahkan. Namun sayang, lisan tak sekuat itu walapun hanya sekedar berucap lirih....Detik ini...tak ubahnya perjalanan kemarin. Pengharapan yang tak pernah henti. Membuang semua "topeng" diri yang selalu dipakai dalam kata-kata perjuangan, hingga membuat kemuliaan menjadi pudar. Pribadi yang terkadang tidak tulus, menutupi semua kebersihan HATI yang sungguh terjaga dengan kefitrahannya. Berteriak "takbir" namun jiwa diliput kecemasan dan kegalauan akan penghidupan dunia yang setiap jam, menit, detik menuntut dan menteror pemikiran dan angan. Menguntai petuah-petuah indah sebagai diri yang bernaung di jalan dakwah, namun membelakanginya dalam perjalanan yang berbeda arah, tiada pertanggungjawaban. Ironisnya....bayangan itu menjadi pengiring gerakan...

Semuanya....melebur dalam jiwa di detik ini, membuka diri untuk satu CINTA. Menghilangkan semua rasa malu, merobohkon benteng keangkuhan yang selalu di jaga saat kilaunya dunia menerangi. Mengatakan yang sejujurnya, tanpa berkilah dan menutupi kebohongan-kebohongan diri. Detik yang mengembalikan sosok yang seakan baru dilahirkan. Yang menangis tanpa berniat membendung aliran air matanya. Yang menghiba dalam gemetar dan peluh tulusnya. Yang menyatukan hati, pikiran, jiwa dan jasadnya dalam rangkaian muhasabah CINTA, seakan tak ingin menggantikan detik ini dengan detik-detik lain yang selalu membawa "topeng" itu kembali! Allahu Rabbi.......

Keheningan semakin menghantarkan diri pada peraduan TASBIH, TAHMID, TAHLIL, dan TAKBIR, yang membumi menggemparkan makhluk alam yang berarak bak awan dalam pengabdiannya kepada Sang Maha CINTA. Sungguh! ini keterpurukan, kegalauan, kekerdilan, kebinasaan, kebusukan, ke......., diri yang berharap akan terkikis bersama bait-bait pengampunan. Dinding-dinding seakan merapat ingin membagi kekuatan mengucapkan kalimat: "ALLAH Engkau dekat". Hamparan sajadah terbentang mesra menampung diri yang timpang dan mengucapkan: "ALLAH aku Cinta". Temaram cahaya menyebar ingin melukiskan sirat wajah yang membentuk telaga dan mengucapkan: "ALLAh aku ridho untuk semua hidup dan matiku...". 

Biarkan semua mengalir bak rinai hujan, mengering tak subur kembali bagai diterpa kemarau yang tak berkesudahan, karena keyakinan telah menempa diri akan tergantikan dengan taman kebahagiaan yang mengalirkan madu-madu CINTA mempermanis IMAN. Angin berbicara lewat deruannya yang memberikan kesejukan di setiap sudut pertiga malam. Guntur bergemuruh teratur disambut kilatan petir yang memancar indah. Dedaunan merunduk 'tersenyum' dibalik tetesan embun yang menitis perlahan ke bumi. Sahutan binatang malam bersahutan menyambut doa JIWA yang telah ikhlas berserah. Malam pun merangkul penuh kehangatan, membiarkan perjuangan meraih ma'rifat dalam takarrub yang berhias khauf dan roja. 

Takkan berakhir di sini. Karena setiap takbir, rukuk, dan sujud akan menjadi saksi pengabdian yang tak pernah bertepi, hingga waktu itu tiba.."Ya ayyuhannafsul muthma'innah. Irji'i ila rhadhiyatammardhiyyah. Fadkhuli fi 'ibadi, wadkhuli jannati...." (QS. Al-Fajr: 26-30)

Im' Syaza: Juni, 28_Detik-detik dalam penantian yang indah..

Pada-Mu kubertanya lewat setiap SUJUDku..

Merasakan, sudah terlalu jauh  kaki ini melangkah

memutar arah yang disinggahi di setiap pertemuannya

bertanya pada setiap aliran air yang seakan meneduhkan dalam gemericiknya

membaur dengan belantara hutan yang menyelimuti saat terik mentari

berlomba menyebarkan sengatannya..

hanya sebatas teman dialog yang berbisik

Cinta manakah yang hadir ini?

Memang, hati ini terlalu pandai menutup diri

bagaimana ia mencari di setiap sela doa

menyimpannya dalam rapatnya ruang yang terjaga

mengingatnya dalam keterpurukan

menantikannya dengan segunung keyakinan

sugesti....dan di utuhkan dengan doa

Semua berlangsung lama, seolah tak mengapa

merasa, ada keridhoan yang merangkulnya

Ghiroh itu di taburi bunga-bunga akan kekuatan azam

yang begitu meraja, tak peduli pada apapun

detik-detik kebahagiaan yang membayang 

mengalahkan semuanya

begitu indah......

Cinta manakah yang hadir ini?

Kesabaran, keikhlasan dalam penantian

tertempa dengan sendirinya

Maha suci Allah...

mendidik pribadi yang bisa memberikan manfaat untuk orang lain

hari-hari penuh pembelajaran dan ibadah yang penuh harapan

Cinta manakah yang hadir ini?

Dan pada akhirnya, doa-doa itu terkabulkan

kebahagiaan berpadu sujud syukur meruntuhkan penantian yang terasa lama

harapan akan meniti kebahagiaan kembali menggunung

tapi........., itu hanya hitungan menit

digantikan oleh kekecewaan yang membuat hati ini terbuka

akal ini kembali berpikir mengulang perjalanannya

seolah tak percaya akan mendapat jawaban tak serupa yang terlukiskan

dalam bingkai hati.....

sempat terucap: mengapa terjadi??

Cinta yang hadir ini adalah....

Perlahan,,semua mulai terjawab

Sungguh, tak bisa menebak rahasia-rahasia-Mu

yang penuh ibroh..

dihadapkan pada berbagai macam jawaban yang membuat hati tertunduk malu

karena ia menyimpan 'kekeliruan' dalam menafsirkan

mendahului ketetapan yang telah ada dengan sugesti yang berlebihan

melupakan satu sumber yang tak akan pernah tergantikan

Menyesal??

sebaliknya, BERSYUKUR...

perjalanan keliru yang membuat diri terbina akan qadha-Nya

menuai petuah indah untuk kelemahan diri yang sering menang

daripada kekuatan yang mestinya mampu menopang

mengambil kembali makna keIkhlasan, Ketulusan, dan Kesabaran

yang sempat terambil oleh keegoisan

dan....memupuk keyakinan yang semakin tertanam bahwa diri........

memang milik yang SATU

kembali merajut harapan-harapan yang dijanjikan Allah

tidak untuk yang lain

diri yang tak bisa sesempurna bunda Rabi'ah dalam menjangkau Mahabbah

tak sekuat Khadijah dalam perjuangan meneguhkan agama

tak secerdas bunda Aisyah....

Ku temukan Cinta-Mu dalam Sujudku

Wahai penilai hati, lihat batinku...

nyaris membisu karena terpaku akan keBesaran-Mu

yang tak tak dapat aku jelajahi sepenuhnya

meski ia bertebaran menyapu langit dan bumi-Mu

tertatih menuju-Mu....tak mengapa.

karena rahasia itu hanya Kau yang tau

tuntun hatiku dalam SABAR menanti cinta..

{Warna_28 Desember: Penantian penuh Anugerah}

"Allah SWT berfirman: jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah; 'cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'arasy yang agung". (QS. At-Raubah: 129)

Sabtu, 06 Juni 2009

The Beautiful Crown:{Paradise Angel}

Kalimat2 dalam tulisan ini adalah buah inspirasi dari seorang penulis Jon Hariyadi yang dirangkum dengan kata2 sederhana.Terima kasihku pada beliau atas karyanya "Ku Tunggu Engkau di Pelaminan",yang membuat mata ini tak henti membentuk telaga ketika membacanya.Sungguh...aku jauh dari kesempurnaan..Kepada CINTA SEJATIku,sujud syukurku pada_Mu atas HIDAYAH yang semua orang berharap mendapatkannya.Tempatkan aku bersama BIDADARI2 SYURGAMu...Amin:-)

"Maka wanita yang sholeha itu ialah yang taat kepada Allah lagi memlihara dirinya ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka" (QS.An Nisa: 34)

Di saat melihat leburnya nilai sholeha dalam diri seorang muslimah, semangat bagai bangkit mencari di mana silapnya. Ambil kembali permata yang kau campakkan, hilangkan debu-debu yang menodainya. Peliharalah....kelak kau akan dipertanggungjawabkan.


SHALIHA:MAHKOTA TERMAHAL
Shalihah adalah keindahan karakter diri yang kemudian memantulkan kilaunya disudut2 sejarah.Sejarah menjadi indah gemerlap oleh peran wanita2 agung.Sejenak,kita menelusuri jejak2 keagungan ratu2 sejarah.Simaklah kemulian Sarah,istri pertama Nabiyullah Ibrahim yang setia mempertahankan diri dari godaan Fir'aun demi kecintaannya kepada suami & takutnya kepada Allah.Wanita yang dari rahimnya terlahir benih2 keturunan para Nabi&Rasul di kalangan Bani Isarail,para pemeran utama salah satu sejarah peradaban manusia yang pernah ada.Yaitu,peradaban ras Semit.Siti Hajar,wanita yang mempertaruhkan kehidupan demi janji suami yang akan kembali dalam waktu tak pasti di tengah alam yang hanya memberikan satu pilihan,KEMATIAN? "Ya Tuhan kami sesunguhnya aku telah menempatkan keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di sekitar rumahMu(baitullah) yang dihormati.Ya Tuhan,yang demikian itu agar mereka mendirikan sholat"(QS.Ibrahim:37)
Bagaimana membayangkan kemuliaannya ketika tapak2 kakinya antara Shafa &Marwa dinapak-tilasi jutaan muslim dari pelosok dunia setiap tahunnya?Semulia apa pula wanita yang melalui rahimnya Allah menempatkan asal benih jalur keturunan Nabi Ibrahim kepada Muhammad,Rasulullah manusia termulia sepanjang masa?

Keshalihan ternyata juga seharga nyawa yang dibayar wanita agung seperti Asiyah binti Muzahim yang riwayat hidupnya berakhir di ujung anak panah Fir'aun,suaminya sendiri,demi mempertahankan harga diri manusia yang tertinggi,yaitu KEIMANAN."
Ya Tuhanku bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisiMu di dalam syurga & selamatkanlah aku dari Fir'aun & perbuatannya & selamatkan aku dari orang2 yang zalim".(QS.At Tahrim:11)
Maryam binti Imran,perawan suci,ke dalam rahimnya Allah meniupkan Ruh suci Nabiyullah Isa.Bunda Khadijah,ibunda orang beriman.Wanita mulia yang setia menyertai perjuangan Rasulullah yang berat di Mekkah pada saat2 menyalakan pelita peradaban manusia paling agung.Fatimahn Azzahrah,putri Rasulullah,penderitaannya menyertai perjuangan sang ayahanda sejak usia lima tahun.Terlalu panjang jika harus mengurai kisahnya yang penuh perjuangan.Dan.....wanita2shalihah yang agung lainnya.....lidah ini terlalu lemah untuk mengungkapkan kemilau mahkota wanita2 ini...

SEMATKAN MAHKOTA itu di HATIMU
"Sesungguhnya Allah tidak melihat jasmani kalian&rupa kalian,tetapi melihat hati-hati kalian".(HR.Bukhari)
"Ketahuilah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal darah.Apabila dia baik,maka baiklah seluruh jasad.dan apabila dia buruk,maka buruklah seluruh jasad.Dia adalah HATI".(HR.Bukhari Muslim)
Hati adalah pusat kesadaran&kendali diri.Dia pucuk pimpinan,pemegang komando semua gerak jasad.Dia pemilik kehendak,kemauan,rasa,apapun yang kita inginkan.Darinya datang ilham atas semua tindakan.Hati yang mencerna nilai,sehingga seseorang menjadi shalih&shalihah.Mahkota indah yang disematkan di hati,akan menampilkan pula tindakan yang indah.Mahkota berharga yang dikenakannya akan menampakkan efek2 bernilai&bermutu yang layak dihargai.Wibawa keagungannya akan memancarkan performa yang juga agung penuh wibawa.Sedangkan mahkota indah yang bertengger di hati wanita muslimah akan menampakkan citra keagungan yang sejati.Dia lestari karena dia bukan materi yang cepat atau lambat akan ditelan oleh sang waktu.Dia abadi&tetap akan menghiasi nama pemiliknya,meski raganya sudah menjadi tanah.Di sisi Allah dia akan menghiasi sang empunya yang telah menjelma menjadi BIDADARI SYURGA.Subhnallah...!
Pemilik mahkota hati justru mengusir hatinya mengangankan keindahan dunia.Dia harus melawan keegoisan dirinya sendiri dengan tidak menampilkan keeksotisan fisiknya agar menjadi pusat perhatian mata banyak orang.padahal,dia punya kesempatan luas untuk itu.tetapi,dia menyembunyikannya di balik kesederhanaan penampilan,namun sangat gigih melibatkan diri&jiwanya dalam peran2 kebajikan.
Namun...tidak semua wanita mampu meraihnya..hanya wanita2 yang rela berkorban meninggalkan kilauan godaan dunia&hanya untuk satu hal:merebut simpati Allah SWT,memperoleh tatapan MataNya yang melimpahkan keridhoan,"
Dan bersabarlah dalam menuggu ketetapan Tuhanmu,maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami".(QS.At Thur:48)
Bagaimana cara meraihnya......??

GAPAILAH dengan IMAN
Seberapa harga yang harus dibayar untuk membelinya????Hanya satu cara meraihnya.Miliki ia dengan IMAN yang menghujam di dalam hati.IMAN yang akan mengalirkan visi,inspirasi,serta energi yang melahirkan tindakan2 SHALIHAH."
Tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik?Akarnya teguh&cabangnya menjulang ke langit.Pohon itu memberikan buahnya pada tiap musim dengan seizin Tuhannya".(QS.Ibrahim:24-25).
Begitulah iman kita,seperti pohon.di situ ada kalimat TAUHID yang menghujam kuat ke dasar hati,kokoh terpatri di dalam pikiran.Melaluinya energi kefitrian manusia akan Allah meresap,kemudian mengalir keseluruh simpul2 syaraf kesadaran dirinya.Menumbuhkan keyakinan yang kuat mengakar pada Allah.Menginspirasi gerak ibadah.Ada SHALAT,sang penghalang kekejian&kemungkaran.ZAKAtpengikis egoisme penyubur kepedulian.PUASA pengasah kendali diri&pembina solidaritas kepada sesama.Dan HAJI sebagai panggilan suci,ke rumah suci,untuk menunaikan misi yang suci.
Itulah ibadah&amalan orang mukmin.Kata Ibnu Katsir,itu adalah dahan&ranting iman yang menjulang ke langit,langit kesadaran&pencerahan jiwa yang kemudian menumbuhkan kebajikan2.kebajikan bertingkah laku dengan sesama dalam akhlakul karimah.
Iman yang mengakar itu telah membentuk karakter&pola pikir.Karakter itulah yang akan memunculkan pola tindak yang disebut sebagai keshalihan,yang sudah mengkristal&menyatu dalam setiap gerak diri yang akhirnya mewujud sebagai identitas.Maka SHALIHAH adalah sebuah identitas yang lahir dari karakter diri yang merupakan buah dari keimanan yang mengakar kuat di hati.Abu Bakar menggambarkanya:apa yang menghujam di dalam hatimu,dan kamu buktikan dengan perbuatan.Pada saat menajdi identitas,keshalihan begitu lekat dengan pemiliknya&tak membiarkan sepotong duri kecil menyakiti kaki manusia.Dia adalh pemalu yang merasa tak punya muka di hadapan manusia apalagi hadapan Allah,kalau harus mencoreng wajahnya dengan setitik ketidak-pantasan.Dia adalah muslim seperti digambarkan Rasulullah,"
Seseorang yang orang2 muslim lainnya aman dari gangguan lisan&tangannya".(HR.Bukhari Muslim).
Semua merasa tenang bersamanya.tak ada kehawatiran,ketakutan,dan kecurigaan.Sebaliknya,dia senantiasa memberi manfaat.Pohon itu memberikan buahnya pada tiap musim dengan seizin Tuhannya,Kemanfaatan kehadirannya tak mengenal tempat,waktu&keadaan.
Saudaraku....Akhlakul karimah,seberapakah yang telah kita miliki?...Dia adalah parameter,apakah iman kita sudah berbuah atau bekum?Namun,hendaknya iman itu bisa menjadi tempat bernaung,kalaupun belum membuahkan.Atau paling tidak,jangan berduri,sehingga tidak melukai atau bikin gatal2 karena beracun.

Kan KuJAGA dengan ISTIQOMAH.....:-)
Bagaimana merangsang pohon IMAN di hati agar berbuah??
Yang terpenting adalah berusaha tanpa henti&ISTIQOMAH.Itulah yang diresepkan Rasullallah setelah kita menancapkan ikrar keimanan."..
..Katakan:Aku beriman kepada Allah,kemudian ISTIQOMAHLAH".(HR.Muslim).Iman yang membuahkan akhlakul karimah yang akan terus bisa dinikmati serta terasa akan segar manisnya setiap saat.Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan izin Tuhannya,kalau sudah menjadi identitas.Satu sifat itu akan diperoleh hanya jika disirami dengan semangat istiqomah yang tidak lekang oleh panas&tidak lapuk oleh hujan.
1.
Motivasi&Orientasi yang lurus(tawhidut tha'ah):"Sesungguhnya orang2 yang mengatakan Tuhan kami adalah Allah,kemudian mereka tetap istiqomah,maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan),janganlah kamu merasa takut&merasa sedih,&bergembiralah kamu dengan memperoleh SURGA yang telah dijanjikan Allah kepadmu".(QS.Al Fushilat:30)
2.
Hanya dengan satu cara,(tauhidul mutaba'ah).Kebaikan dipertahankan karena satu kekuatan,yaitu kekuatan CINTA!pengorbanan rela ditempuh karena satu sebab,CINTA.cinta kepada Allah adalah energi besar istiqomah.namun ia tidak cukup hanya diucapkan atau diekspresikan sesuka sang pencinta."Katakanlah,jika kamu benar2 mencintai Allah,ikutilah aku,niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosamu".(QS.Ali Imran:31)
3.
Tekat Kuat (shidqul 'azm)."Di antara orang2 mukmin itu ada orang2 yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah ,maka di antara mereka ada yang gugur.di antara mereka ada pula yang menunggu2&mereka sedikit pu tidak merubah janjinya".(QS.Al Ahzab:23)
4. Tawakkal. Harapan adalah harapan yang terus dijaga dalam sanubari.Tekad tetaplah tekad yang harus ditancapkn dengan kuat di dasar jiwa.Untuk memuluskan tekad itu,tidaklah terwujud kapanpun sekehendak kita.semua hasil akhir adalah kehendak Allah,kita hanya pelaksana."
Kemudian apabila kamu sudah membulatkan tekad,maka bertawakallah kepada Allah SWT.Sesungguhnya Allah menyukai orang2 yang bertawakal kepada_Nya".(QS.Ali Imran:159)
Sungguh indah tawakkal orang yang beriman.Bara semangat untuk berbuat tak pernah padam.Tetapi dia tidak pernah membiarkan dirinya besar kepala dan tinggi hati,bahwa segala-galanya berpulang kepada Allah.Sang empunya kehendak,ketetapan,dan kuasa.
"
Mengagumkan urusan orang2 beriman.jika terkena musibah ia bersabar,itu sangat baik baginya.jika memperoleh kenikmatan,dia bersyukur dan membesarkan nama TUhannya".(QS.An Nasr:1-3)
{
Source: Jon Hariyadi,Ku Tunggu Engkau di Pelaminan}

Subhannallah...kenakanlah mahkota indah itu.jadikan ia sebagai identitas yang melekat selalu pada dirimu.Raihlah ia.....dan jagalah dengan istiqomah.Sudahkah????

WARNASyaza:
Keindahannya dilukiskan dengan semua yang ada dalam genggaman nyata. Sungguh! begitu indah,,,Kesempurnaan diri yang dibalut sutera IMAN dan AKHLAKUL QUR'AN..
Diri,,,,,yang berusaha menjaga langkah untuk perjuangan di jalan Allah, yang tak pernah lelah dengan semua amanah yang terusung di pundaknya. tak akan hilang senyumnya meski keguguan jiwa dan kesulitan menghujami. Semua menjadi sebuah pemahaman, bahwa itu adalah ujian yang hadir sebagai anugerah dan membuka peluang untuk bersabar dan bersyukur...

Diri yang tak pernah ingin pamrih dengan semua pengorbanan. Merebak harum keikhlasan dalam menjaga dan menerima apa yang dianugerahkan kepadanya. Ingin menjadi "pemandangan" yang tak pernah menjemukan dan diiringi lantunan "kebesaran Allah", dan dirindukan akan kelapangan semua orang bersandar pada diri yang menyadari "kelemahan" namun ingin selalu TEGAR dalam melangkah yang berderap nyata dihiasi dengan keimanan yang dipadu dengan "IBADAH CINTA"...(To me: Ima can do it! )

Mungkin, terlalu mullia jika diri ini menginginkan para biadadari syurga untuk cemburu? itu artinya lebih baik dari mereka??? Semoga....:-) Karana inilah jalan yang telah diberikan untuk dirintis. Robb...jadikan aku wanita sholeha yang menempati bagian tertinggi di sisi-Mu..Love at The First Sight! (IM_Poetri Bungsu:saat berjuang dengan ketegaran menikmati ujian dari_Nya)